Kamu pernah dengar nggak ungkapan itu? Hmm… Jadi kalau kamu merasa bahwa kamu benar benar sahabatnya, pertama-tama kamu harus lebih bijaksana. Cobalah berpikir dari berbagai segi jangan seperti Cerita “Orang buta dan Gajah” berikut ini:
Syahdan di sebuah hutan antah berantah seorang buta sedang berjalan dan tiba tiba segerombolan gajah lewat menerjang tibuhnya. Dia terluka parah namun selamat.
“Apa yang menabrakku tadi ya?”, pikirnya. Dia yang sempat memegang kakinya menganggap benda yang “berbahaya” itu adalah sesuatu yang bundar tingggi memanjang. Maka, dia langsung berpikir benda yang seperti itu harus dihindari kalau perlu dibenci. Nah saat bertemu batang pohon yang berdefinisi sama dia panik lalu berlari ketemu batang pohon lagi lari akhirnya dia pingsan dan mati karena capek lari dari serbuan “batang batang pohon” yang menurutnya pasti akan menginjak injak tubuhnya.
Lihat… akhirnya dia mati karena persangkaannya sendiri…
Jadi, kamu harus berpikir bagaimana kalau jadi dia… bagaimana kalau jadi cowoknya… bagaimana kalau jadi sahabatnya….
Jadi jangan cuma berfikir satu sisi saja. Dia sedang bergembira dalam dunia kecilnya. Biarkan dahulu untuk sementara waktu. Toh terkadang kamu juga punya waktu yang nggak mau kamu bagi dengan siapapun khan. Anggap saja dia sedang dalam situasi itu.
Namun bukan berarti kamu melepaskannya, tapi berlaku arif lah. Toh, pada suatu saat saat dia merasa bosan dengan dunia kecilnya, dia akan mau menjalin komunikasi dengan kamu lagi khan…
Pertanyaan gw, apa hubungaan gajah dan orang buta dengan judul di atas???